CONNECT WITH US
  • Ini Identitas Mayat Yang Ditemukan Warga Di Tanjung Pinang

    Bagikan:
    Suasana Sembayang Di Rumah Alm. Etes
    Kembayan (Suara Sanggau) - Penemuan mayat
    di kebun karet milik Adi, warga Dusun Tanjung Pinang, Desa Sebongkuh, Kecamatan Kembayan pada hari Kamis, 16 November 2017 Pukul 8.30 WIB lalu, oleh Ibu Yuniati saat hendak membuang pempers di Sungai Merowi, sempat menggegerkan warga Kembayan.

    Melihat mayat dalam kondisi tertelungkup di kebun karet sekira 20 Meter dari Sungai Merowi, Ibu Yuniati segera melaporkan kepada warga terdekat dan disampaikan kepada Yosep Amen Kelapa Dusun Tanjung Pinang, dan Kadus tersebut segera menghubungi Babinkamtibmas Sebongkuh Bripka Marional Gultom namun ia masih di Pontianak. Bripka M. Gultom segera menghubungi Kanit Reskrim Polsek Kembayan Aiptu Supar bersama delapan anggota Polsek lainnya segera menuju TKP.

    Dari hasil oleh TKP, dipastikan identitas mayat bernama Dorensius Ettes alias Etes, kelahiran Sanggau 12-12-1938, alamat Tanjung Pinang RT/RW -/002 Desa Sebongkuh Kecamatan Kembayan, Agama Katolik, Pekerjaan Petani/Pekebun, dan Cerai Mati.
    Alm. Etes ini hidup seorang diri karena istrinya meninggal kurang lebih lima tahun lalu akibat Hipertensi. Etes meninggal karena memang mengidap penyakit hipertensi dan sering berobat pada Mantri Desa Semayang Amidius Nak.
    "Sudah kurang lebih empat bulan ini ia tidak pernah berobat lagi ke saya, namun sebelumnya sering berobat dengan diagnosa Hipertensi 190/100", papar Nak kepada SuaraSanggau.co.id, Jumat (17/11/2017).

    Hal tersebut juga dibenarkan oleh Sueti anak kandung Alm Etes, anak kedua dari dua bersaudara.
    "Saya tinggal di Pontianak. Kami hanya dua orang bersaudara saja, kakak saya Suleni berdiam di Semayang. Ibu kami sudah meninggal lima tahun yang lalu karena itu ayah kami ini hidup seorang diri. Cucunya baru empat orang", terang Sueti.

    Pihak keluarga sudah tahu bahwa meninggalnya orang tua mereka karena hipertensi, bahkan sehari sebelum meninggal sempat ia membeli lauk babi bahkan saat kami datang lauk itu masih bersisa.
    "Ia meninggal tidak jauh dari rumah sekitar 50 Meter jaraknya. Dan menurut penemu mayat, alm orang tua kami ini diperkirakan baru naik dari Sungai Merowi melihat hasil pukat yang dipasangnya. Saat meninggal handuk yang digunakannya untuk mandi sedang dipakainya" papar Suleni.

    Penulis : Nikodemus Niko
    Editor   : Suhardi
    KOMENTAR