CONNECT WITH US
  • Temenggung Ba' Pulou Pimpin Sidang Adat Perkara Naomi Korban Meninggal Lakalantas

    Bagikan:
    Suasana Sidang Adat Perkara Lakalantas Korban Naomi
    Kembayan (Suara Sanggau) - Perkara lakalantas yang terjadi pada hari Jumat 27 Oktober 2017 sekitar pukul 13.00 WIB di Jalan Trans Kalimantan KM 9 depan Kantor Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya, antara sepeda motor Suzuki Satria F merah Hitam KB 5496 UN dikendarai oleh seorang anak perempuan atas nama Naomi (17 Th) warga Dusun Tanap Desa Tanap Kecamatan Kembayan membonceng Nivia Engki (15 Th) warga Dusun Tanjung Lalang RT/RW 01 Kecamatan Terentang Kabupaten Kubu Raya, dengan sepeda motor KB 3665 NJ pengendaranya belum diketahui identitasnya dan dengan mobil tangki KB 9502 SB yang dikemudikan seorang laki-laki bernama Kuswori Hendro Jatmiko (KHJ), kini sudah memasuki tahap sidang adat yang dipimpin oleh Temenggung Ba' Pulou Desa Tanap Kecamatan Kembayan di rumah Markael Apuk (Orang tua kandung Almh Naomi-Red) dihadiri oleh segenap pengurus adat, pihak ahli waris Almh Naomi dan pihak KHJ, Sabtu (11/11/2017)

    Paulus sebagai juru bicara pihak keluarga Almh. Naomi menyampaikan, setelah jazad Almh. Naomi datang tanggal 27 Oktober 2017 malam, pihaknya berharap pelaku penabrak seyokyanya segera menghubungi pihak keluarga korban. Namun hal itu tidak sesuai harapan karena belum terjalin komunikasi yang baik, sehingga keluarga korban mengambil inisiatif melaksanakan ritual adat pumape' (sangga parang - Red) serta adat penguburan.
    "Ritual adat pumape sudah kita laksanakan tanggal 28 Oktober 2017 dan penguburan dilaksanakan tanggal 29 Oktober 2017", papar Paulus.

    Hal yang sama disampaikan oleh Dewantoro mewakili pihak keluarga korban. Adat pumape dan penguburan sudah ada ketetentuan dan sudah ditetapkan.
    "Adat pumape nilainya lima juta dan adat penguburan nilainya tujuh juta. Sehingga adat yang secepatnya harus dipenuhi ini nilainya 12 juta", tegas Dewantoro.

    Dewantoro melanjutkan, selain adat pumape dan penguburan juga ada biaya di rumah sakit Sudarso yang juga menjadi tanggungjawab pihak pelaku penabrakan. Untuk adat Pati Nyawa kami serahkan kepada Temenggung Ba' Pulou selaku pengadil, tambahnya.

    Menjawab hal yang disampaikan oleh pihak keluarga korban, KHJ menyampaikan permohonan maaf dan turut berbelasungkawa atas musibah yang dialami oleh keluarga korban.
    "Kami mohon maaf dan berbelasungkawa atas kejadian ini. Oleh karena itulah kami datang sebagai bentuk tanggungjawab kami, namun kami juga mohon pertimbangan karena hal ini tentu bukan unsur kesengajaan. Kami juga sudah sampaikan bahwa dalam lakalantas ini masih ada pihak pelaku lain, sampai hari ini belum diketahui", ungkapnya.

    KHJ berharap pihak keluarga dan temenggung atau pengurus bisa memutuskan seadil-adilnya terhadap perkara ini.

    Setelah melalui proses yang cukup panjang akhirnya Redes Temenggung Ba' Pulou memutuskanlah adat Pati Nyawa senilai kurang lebih Rp 43.476.000,- dan ditambah biaya ganti kendaraan yang rusak senilai 10 juta.
    Terhadap putusan tersebut pihak ahliwaris meminta pembayaran adat paling lambat tanggal 18 November 2017 namun pihak KHJ meminta pertimbangan pembayaran diupayakan paling lambat tanggal 5 Desember 2017 mendatang.

    Penulis : Nikodemus Niko
    Editor   : Suhardi
    KOMENTAR