CONNECT WITH US
  • Ganti Rugi Tanah Tak Kunjung Dibayar, Warga Sungai Ilai Tuntut PT. BKP

    Bagikan:
    BENDOT
    Beduai (Suara Sanggau) - Polemik penggusuran tanah milik Bendot warga Dusun Selabe Desa Sungai Ilai Kecamatan Beduai oleh PT. Borneo Ketapang Permai (BKP) Kebun Beduai sudah ada upaya penyelesaian secara kekeluargaan namun hingga kini Bendot mengeluh terhadap sikap majemen PT. BKP karena belum memenuhi perjanjian ganti rugi atas tanah kebun pribadinya yang digusur.

    Permasalahan penggusuran tanah seluas 0,8 Ha di blok L 28 milik Pak Bendot oleh PT. BKP tanggal 28 Agustus 2017 lalu, sudah diadakanlah penyelesaian adat yang dipimpin oleh Pengurus Adat Dusun Selabe Pak Markus Utin di Kantor Kebun PT. BKP, yang dihadiri oleh Manajemen Pengembangan PT. BKP, Bendot Pemilik Tanah, Pengurus Adat, Kepala Dusun dan ahli waris pemilik tanah, pada hari Senin tanggal 02 September 2017 lalu dengan keputusan PT. BKP atas kesalahan pengusuran tanah, membayar adat 4 Buah Nongku Ngusur Tono' Kai Butabe serta adat 4 Buah Ngabo Mayo Usaha Nyo.

    Selain pembayaran adat tersebut, putusan yang disepakati yakni Pihak PT. BKP mengganti tanah Pak Bendot yang telah digusur dengan mencari tanah pengganti dan membuat dokumen penyerahan secara lengkap. Namun dalam waktu berjalan pihak PT. BKP tidak mendapat tanah pengganti yang sesuai, sehingga berdasarkan kesepakatan baru Pihak PT. BKP bersedia membayar ganti rugi tanah Pak Bendot senilai Rp. 26.400.000,-

    "Saya kecewa dengan sikap pihak perusahaan karena tidak tepat janji, hingga kini belum membayar penuh ganti rugi tanah saya yang digusur", ungkap Bendot dihadapan suarasanggau.co.id, Senin (29/1/2018).

    Bendot mengisahkan, ia sudah cukup bersabar dan patuh pada kesepakatan yang telah dibuat bersama antara pihak perusahaan dan pengurus adat, yakni pihak PT. BKP mencari lahan pengganti tanah kebun karetnya yang digusur. Atas pengusuran tersebut ia merasa sangat dirugikan karena kehilangan mata pencarian. Selajutnya karena tanah kebun karet pengganti sulit didapatkan, pihak PT. BKP siap membayar ganti-rugi namun belum juga terealisasi.

    "Kebun karet tersebut merupakan satu-satunya usaha andalan yang menopang ekonomi kekuarga saya, namun dengan digusurnya kebun tersebut, kini saya tidak punya punya penghasilan lagi", keluhnya.

    Ia sangat mengesalkan ulah pihak PT. BKP belum memenuhi janjinya. Jika dalam awal bulan Februari 2018 ini ganti-rugi belum juga dibayar maka ia berencana mengurus kasus ini ke tingkat yang lebih tinggi, pungkasnya.

    Penulis: Nikodemus Niko
    Editor: Kundori

    KOMENTAR