CONNECT WITH US
  • Camat Kembayan Fasilitasi Pansus DPRD Sanggau Bahas PT. TBS

    Bagikan:
    Kembayan (Suara Sanggau) - Berdasarkan Surat Ketua DPRD Kabupaten Sanggau Nomor: 170/128/DPRD, tanggal 17 April 2018 hal Pembahasan Permasalahan PT. Tayan Bukit Sawit (TBS) Camat Kembayan memfasilitasi Raker Pansus DPRD Kabupaten Sanggau di Ruang Rapat Kantor Camat Kembayan membahas permasalahan PT. TBS, dihadiri Lintas Fraksi DPRD Sanggau, Forkompimka Kecamatan Kembayan, Pengurus KSU Borneo Elf Mandiri (BEM), Kades Tanjung Merpati, Kades Sejuah, Kadus Tanjung Selong, Kadus Nenguh Rage dan Kadus Merakai, Sabtu (21/4/2018) Pkl 10.00 WIB.

    Camat Kembayan  Inosensius Nono mengharapkan dengan dibentuknya Pansus oleh DPRD Sanggau, permasalahan yang terjadi berkaitan dengan PT. TBS sebagai pabrik nonkebun bisa terselesaikan.

    Ketua Pansus Eko Sutrisno SH menegaskan, pansus dibentuk posisinya berdiri ditengah-tengah antara masyarakat dan pihak perusahaan untuk menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan kemitraan perusahaan dan dampak lingkungan dari pabrik sawit tersebut.

    "Dalam pertemuan ini kami meminta agar pihak KSU BEM dan perwakilan masyarakat menyampaikan permasalahan yang berkaitan dengan PT. TBS sehingga Pansus bisa meninjau permasalahan tersebut dan pada akhirnya mengambil sikap dalam penyelesaian permasalahan yang bisa menguntungkan pihak perusahaan dan koperasi sebagai mitra serta masyarakat di wilayah Kembayan umumnya", ujarnya.

    Ketua Pengurus KSU BEM, Erik Erin menyampaikan sejauh ini perjanjian kerjasama PT. TBS dengan KSU BEM tidak ada tindaklanjutnya.

    "Dalam kemitraan dijelaskan ada pihak 1 (Kesatu) Perusahaan dan Pihak 2 (Kedua) Koperasi sebagai mitra, namun sejak berdirinya pabrik sudah sering kita undang untuk membicarakan hal kemitraan tersebut hingga tujuh kali namun pihak manajemen perusahaan tidak menghadirinya", ungkap Erik Erin.

    Erik Erin melanjutkan penjelasannya, KSU BEM legalitasnya sebagai mitra PT. TBS kesannya hanya dimanfaatkan untuk proses mendirikan Pabrik PT. TBS saja, sehingga selama operasional hingga berjalan setahun ini kemitraan tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya sesuai Permentan Nomor 98 tahun 2013.

    Di pihak perwakilan masyarakat, Pelik Pii Kadus Sei. Bun menyampaikan bahwa dugaan pencemaran lingkungan dari limbah pabrik PT. TBS mengakibatkan Sungai Bonti Desa Sejuah sempat ada dua kali airnya keruh kecokelatan sehingga ikan di sungai tersebut mati.

    "Selain sungai yang keruh, bau tak sedap juga kadang terhidu saat udara dari arah pabrik berhembus ke arah pemukiman penduduk dan ini sudah lama dikeluhkan warga kampung", tuturnya.

    Paulinus Olon Kadus Tj. Selong juga menyampaikan keluhan yang dialami warganya.

    "Jarak dari Pabrik PT. TBS ke Tanjung Selong kalau melalui alur sungai Sekayam kurang-lebih 2 Km. Imbas di masyarakat saat ini, pencemaran Sungai Sekayam sudah terasa. Tanaman padi di Tanjung Maya yang berada di sawah dekat pesisir sungai Sekayam sempat mati dan hal ini sudah diselesaikan dengangan saksi adat", timpalnya.

    Di akhir pertemuan Eko Sutrisno mengharapkan dari permasalahan yang sudah diungkapkan Tim Pansus akan bekerja sebaik mungkin membuat kajian untuk menyelesaikan permasalahan.

    Hal senada juga ditegaskan Yeremias Marsilius, Sekretaris Pansus DPRD Sanggau, jika memang PT. TBS tidak melaksanakan atau melanggar peraturan yang ada, maka pabrik ini bisa saja ditutup.

    "Pemerintah berhak mencabut ijin perusahaan tersebut,  namun jika ada itikad baik dari perusahaan tersebut maka Pansus akan melanjutkan dengan memberikan catatan, pungkasnya.

    Penulis: Nikodemus Niko
    Editor: Rizki Mahardika
    KOMENTAR