-->

Harga Karet Turun,Petani karet Menjerit

Editor: Redaksi author photo
                       Petani karet

Sekadau (Suara Sanggau) - Anjloknya harga karet saat ini membuat ekonomi khususnya petani penyadap karet semakin sulit. Pemerintah diminta serius menangani harga karet yang tidak kunjung membaik.

Salah seorang petani karet di Sekadau, H. Sarkat mengatakan anjloknya harga karet sudah berlangsung dari tahun 2013 lalu dan hingga kini tidak kunjung naik.

"Saat ini harganya Rp 5.000 an, paling ya Rp 5.200, naik sedikit Rp 5.400, paling tinggi Rp 5.500, bahkan dulu pernah turun sampai Rp 3.000 saja," ujarnya kepada suarakalbar.co.id.

Dengan harga yang anjlok, saat ini ia hanya bisa pasrah dan melakukan perawatan kebun seadanya. Apalagi dengan kondisi cuaca yang tidak menentu sekarang, penyakit karet juga beragam.

Ia bercerita dimasa pandemi Covid -19, ekonomi keluarganya sangat terasa tidak menentu mengingat ia sehari - hari hanya mengandalkan bekerja sebagai petani karet.

"Jangankan untuk mupuk, untuk makan aja kita susah. Apalagi sekarang karet dalam setahun bisa 2 sampai 3 kali daunnya rontok, kalau dulu paling sekali," ceritanya saat memberikan cuka di batang karet agar getah yang sudah disadap cepat beku ketika musim penghujan.



H. Sarkat memiliki 4 hektar kebun karet unggul dengan penghasilan 20 hingga 30 Kg per hari. Ia mengatakan dulu ia dalam sehari hanya menyadap 1 hektar per hari, namun dengan kondisi sekarang ia paksakan 2 hektar per hari dengan periodeisasi 2 hari sekali sadap.

Lanjutnya, dulu harga karet bisa mencapai Rp 20.000 per Kg. Dengan harga yang cukup tinggi itu membuat para petani waktu itu termasuk dirinya sangat bergairah menanam karet. Bahkan saat harga tinggi beberapa tahun lalu ia bisa naik haji dari hasil menyadap karet.

"Kita minta Rp 10.000 sajalah per Kg nya, mungkin bisalah membantu petani. Tapi dengan harga sekarang hanya Rp 5.000, kalau rata - rata per hari 10 sampai 20 Kg bisa dikalikan berapa duitnya, sedangkan sekarang harga beras, harga gula semua sembako kita perbandingkan semuanya sudah tidak mendukunglah untuk petani karet ini," ungkapnya.


Ia berharap pemerintah segera menyiasati dan mancarikan solusi agar harga karet kembali naik minimal diangka Rp 10.000 per Kg karena menurutnya harga karet sekarang sudah tidak berimbang dengan harga kebutuhan pokok yang kian naik.

Saat ini H. Sarkat memiliki 4 orang anak dengan 2 orang diantaranya masih sekolah. Untuk membantu ekonomi keluarga, Ia juga mengaku dibantu sang Istri dengan berjualan di Toko miliknya sendiri, namun dimasa Pandemi Covid-19 hasilnya juga sangat berkurang signifikan karena sepinya pembeli.


Penulis : Tambong Sudiyono
Editor    :  Herman
Share:
Komentar

Berita Terkini