-->

Pemukulan Yang Dilakukan Anak,Terhadap Orang Tuanya Ditempuh Jalan Damai

Editor: Redaksi author photo
    Pemukulan Yang dilakukan YD
    Ditempuh Jalan Damai

SUARA SANGGAU.C0.Id.-Sanggau
Semua orang tua,tak ingin melihat anaknya masuk penjara, meski sang anak telah melakukan tindak pidana,
terhadap keluarga atau orang tua sendiri.

Seperti yang dilakukan  YG warga kecamatan Bonti,ia mohon agar 
kasus pemukulan yang dilakukan anaknya YD beberapa waktu lalu terhadap dirinya (Ayah Kandung) ia memohon agar kasus tersebut jangan dilanjut ke Pengadilan,karena memaafkan anaknya (YD).

Meskipun berkas perkara kasus tersebut sudah lengkap dan akan diserahkan penyidik ke Penuntut Umum.
Upaya jalan damai ini,dibenarkan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sanggau, Tengku Firdaus.
Menurut Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sanggau, Tengku Firdaus, penghentian itu dilakukan setelah pihak Penuntut Umum melakukan mediasi terhadap ke dua belah pihak, yang dilakukan di Aula Kantor Kejaksaan Negeri Sanggau, Selasa minggu lalu.

Mediasi yang kita lakukan lanjutnya, merupakan implementasi dari perin
tah dan petunjuk dari Jaksa Agung RI dan Kejati Kalbar,terkait Peraturan Jaksa Agung nomor 15 tahun 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restorative justice (keadilan restoratif). yang baru saja dilaunching. 

Apalagi, orangtua tersangka telah memafkan dan mohon perkara tersebut tak dilanjutkan.
Permohonan upaya damai tersebut,
syah saja kata Kejari Sanggau

Dalam proses perdamaian itu, tersangka, dan kedua orangtua tersangka,serta saksi dan para pihak dihadirkan di kantor Kejaksaan Negeri Sanggau, Selasa (6/10/2020).

Dari awal, kasus ini menjadi perha
tian kita,sementara pihak penyidik terkait permasalahan tersebut  telah menjeratnya dengan kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan seorang anak kepada orangtuanya (ayahnya).

 Pada saat penelitian berkas perkara, berkasnya sudah dinyatakan lengkap. Unsur delik yang disangkakan teman-teman penyidik berdasarkan undang-undang kekerasan dalam rumah tangga dan 351 sudah terpenuhi, dimana ada sejumlah alat bukti yang menguatkan,” ungkap Firdaus.

Dijelaskannya,berdasarkan peraturan jaksa agung, Penuntut umum diberikan ruang selama 14 hari untuk mediasi kepada pihak korban dan tersangka.Minggu lalu sudah  lakukan, kita hadirkan para pihak, korban dan tersangka hadir,”

Setelah para pihak menandatangani perdamaian, pihak Kejari Sanggau akan meminta persetujuan dari Kejaksaan Tinggi Kalbar.
“Nanti Kajati akan memberikan petunjuk. Diterima atau ditolak perdamaian tersebut, kita berharap dengan itikad baik  mudah-mudahan bisa disetujui,” kata dia.

Kepada awak media, Firdaus juga menyebut kriteria perkara yang bisa diterapkan restorative justice antara lain:Ancaman hukumannya di bawah lima tahun, pelaku baru pertama kali melakukan,Kemudian kalau diancam pidana denda tidak di atas Rp 2,5 juta,,(Herman)







Share:
Komentar

Berita Terkini